Rabu, 16 April 2014

Elegi Mentari Senja

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered! 

Tapi pada akhirnya aku berencana untuk melanjutkannya kisah mereka di sini



Sinopsis

Melissa adalah seorang perempuan yang membawa  masa  lalu  kelam  dalam  hidupnya. Pernah  diperkosa oleh  Pamannya sendiri menjadikan  dirinya ketakutan terhadap sentuhan  pria. Hanya  Ferry, Kakak  kandungnya sekaligus  satu-satunya lelaki dalam hidup  yang paling bisa berdekatan dengannya. Hingga  kemudian  dia  bertemu  Tommy. Sahabat  baik Ferry.
Perlahan hati Melissa mulai luluh atas segala ketulusan Tommy, namun akankah cinta memenangkan segalanya ketika sesuatu dari diri Melissa yang gelap kembali bangkit dan menghantui masa depannya? Pada akhirnya dia harus memilih. Cahaya  untuk masa depannya atau terjebak dalam masa lalu??

Prolog

Kurasakan tangan besar dan kasar menyingkap baju tidurku, jari-jari dinginnya menyentuh kulit perut buncitku. Semakin lama semakin naik kemudian meremas dadaku yang belum tumbuh seutuhnya. Sontak membangunkan tidurku.
"Paman?" mataku melebar dengan besar. "Apa yang Paman lakukan?" teriakku.
Kudorong tangannya agar menjauh dariku. Tapi apalah daya, kekuatan tubuh kecilku tak bisa dibandingkan dengan lelaki dewasa.
"Kumohon jangan!!" Aku memohonnya untuk menghentikan tangannya yang dengan kasar merobek baby doll motif snoopy yang kukenakan. Bukannya berhenti, dia semakin beringas dan brutal.
Dia menindihku, kedua pergelangan tanganku dicekalnya dengan tangan kanannya. Sementara tangannya yang bebas berusaha menurunkan celana dalamku. Aku meronta, kakiku bergerak menendang-nendang berusaha keluar dari kungkungannya.
"Sstttt!! Jangan keras-keras!" Bisiknya di telingaku, yang dilanjutkan dengan menjilat lubang telingaku, leherku lalu turun semakin ke bawah.
Aku bergidik ngeri, jijik. Kugeleng-gelengkan kepala ke kanan dan kiri, aku tak suka rasa basah di kulit tubuhku yang berasal dari sapuan lidahnya.
Aku berteriak kencang, "Aku nggak mau!!"
Aku hampir kehabisan oksigen, dadaku sesak karena keberadaan tubuhnya yang besar di atasku tak mau pindah bahkan barang sedetik pun.
"Diam!!" Matanya melotot padaku. Tangannya membekap mulutku. "Jangan berteriak! Tak'kan ada yang mendengarmu. Lebih baik turuti Pamanmu ini, sayang." Dia tersenyum culas pura-pura tak melihat kepanikanku.
Dia bangkit, sejurus kemudian membuka kakiku lebar-lebar. Tenggorokannya bergerak naik turun menelan ludah menatap pada kemaluanku. Diturunkannya kepalanya ke arah kewanitaanku yang masih polos belum ditumbuhi rambut pubis sehelai pun. Tangannya bergerak membuka lipatannya. 
Aku semakin panik, dengan paksa kutarik rambutnya sekuat tenagaku. Kucakar pipinya dengan kukuku yang panjangnya tak seberapa. 
Dia mengerang. Kuharap dia segera bangkit dari tubuhku, tapi ternyata kurasakan lidahnya membelai di area tersebut semakin dalam. Kemudian dia menarik kedua kakiku ke atas. Aku semakin tak berkutik dibuatnya.
Aku mengencangkan teriakanku, menangis histeris. Berharap ada orang lain yang mendengarnya. Air mata bercucuran membasahi pipiku. Aku hanya bisa berteriak minta tolong agar ada orang lain -siapapun dia- rela datang dan sudi menolongku.
Brakkkk!!
Suara pintu terbanting melawan dinding dengan keras. 
"Kurang ajar kau, brengsek!!" Suara laki-laki yang sangat kuhafal berdiri di pintu kamarku, Bang Ferry. Dia berjalan secara kilat menuju tempat tidurku.
Paman gila yang berusaha melecehkan keponakannya sendiri bangkit dari tubuhku. Dia menoleh ke arah sumber suara. 
Aku juga menatapnya, lalu berteriak memanggilnya. "Bang!! Dia jahat. Dia nyakitin Lissa." Aku mengatakannya sambil menangis dengan suara tersenggal-senggal. 
Tak ada satu detik, tangan kanannya yang mengepal mendarat dengan mulus ke wajah Paman tanpa ampun. Dia memakinya dan memukulinya membabi buta. Darah menyembur dari mulutnya.
Paman tak mau tinggal diam, dia pun memukul dada dan perut Bang Ferry. Mereka saling melukai satu sama lain.
Aku beringsut menjauh dari pergulatan para pria dewasa tersebut, tak mempedulikan lagi apa yang terjadi di belakangku, aku langsung turun dari ranjang. Selimut gambar Snow White kesayanganku jatuh ke lantai, aku pun mengabaikannya.
Langsung bergegas lari ke tempat lebih aman.
Tempat persembunyianku.
Bersembunyi.
***




Tidak ada komentar:

Posting Komentar