Senin, 28 Juli 2014

Lumpuhkan Ingatanku (cerpen)


Lumpuhkan Ingatanku

Aku menyesal telah mencintaimu.
Setelah kutahu sakit hatilah yang akan menghampiriku.
Kenapa kita harus bertemu?
Kenapa kita harus jatuh cinta?
Jika pada ujungnya, 
Aku harus melumpuhkan kau di ingatanku.
~**~
Kuparkir mobil Mercedes merah metalik-ku di samping rumah, tempat kediaman dan suami. Sebelum turun, aku oleskan lipsgoss warna nude pada bibir, menyisir rambut, dan mengecek make-up agar tampak lebih sempurna. Aku tersenyum bahagia terlihat pada pantulan bayangan cermin, hari ini wedding anniversary kami yang ketiga.
Kulangkahkan kakiku ke arah pintu utama dan membukanya. Bi Rahma, asisten rumah tangga datang menyambutku dengan pandangan terkejut, seolah melihat hantu di siang bolong.
Dengan senyum yang sedikit dipaksakan, ia menyapaku, "Non...Non sssuu...dah pulang?" Tanyanya gugup.
Aku mengangguk dan tersenyum padanya, "Bibi kenapa? Nggak enak badan?" Tanyaku sambil menempelkan punggung tanganku ke dahinya. Sedikit hangat, menurutku.
"Tidak, Non. Saya tidak apa-apa, Non." Jawabnya. Aku menyipitkan mata dan mengamati raut wajahnya.
Bi Rahma adalah orang yang bekerja dan menjadi salah satu orang kepercayaan Ibuku sejak aku masih kecil. Dia berkepribadian baik, jujur, setia, dan juga humoris. Kadang-kadang kalau seisi rumah kosong, aku lebih suka makan bersamanya di dapur lalu nonton TV bareng. Aku sangat menyayanginya seperti keluargaku sendiri.
"Non, mau minum?" Tanyanya padaku sambil tersenyum yang selalu menghiasi wajahnya.
"Iya, boleh, Bi. Jus jeruknya masih ada nggak, Bi? Haus banget nih..." Tanyaku dengan suara manja yang aku buat-buat.
Dia berjalan ke arah dapur dan mengambil gelas kemudian mengisinya dengan jus jeruk dari dalam kulkas, dan menyerahkannya padaku.
Aku menerimanya dan langsung aku teguk sekaligus, "Haaaahhh, enak banget Bi, makasih ya? Oh, ya. Dimas sudah pulang lom Bi?" Tanyaku padanya dengan santai. Seharusnya jam segini sudah pulang tapi aku tak melihat mobilnya.
"Hemm...itu Non, anu..." Kegugupannya membuatku semakin curiga.
"Udah pulang, Bi?" Tanyaku lagi. Penasaran.
"Oh...Tuan Dimas, Tuan Dimas sssuu...dah pulang, Non. Tapi itu Non...anu." Jawabannya masih menyisakan tanda tanya.
Aku merasa Bi Rahma beneran nggak enak badan. Kemudian aku menyuruhnya untuk segera beristirahat.
Setelah ia masuk ke kamarnya aku edarkan pandanganku ke seluruh sudut ruang tamu. Dan tatapanku berhenti, terpaku pada sepasang high heels merah menyala setinggi sepuluh senti di undakan pertama tangga menuju ke lantai atas.  
Anehnya, itu bukan milikku. Mendadak dadaku terasa sesak dan napasku memburu.
Aku langsung naik meloncati dua tangga sekaligus.
Sesampainya di lantai atas, samar-samar kudengar desahan, lenguhan, dan juga jeritan yang tertahan dari arah kamarku - kamar kami. Rasa penasaranku semakin menjadi-jadi. Aku memberanikan diri mendekati pintu.
Dengan tangan gemetar tetap kupaksakan untuk menyentuh knop pintu dan mencoba membukanya. Sebuah suara pelan 'klek' terdengar olehku, pintu itu tak terkunci lalu aku membukanya perlahan semakin lebar.
Suara-suara itu semakin jelas dipendengaranku, dan yang benar saja....
Astaga...
Oh Tuhan... Apa yang telah mereka lakukan? Di kamarku? Di ranjangku?
Di atas ranjang itu aku melihat pergumulan dua orang manusia yang sedang dalam gairah panas dan nafsu liar yang menggebu-gebu. Kaki si perempuan dikaitkan di atas pinggul seorang pria yang telanjang bulat dan menindihnya dengan penuh nafsu, tangannya di kalungkan di lehernya dengan frustasi, napasnya terengah-engah sambil memejamkan mata menerima semuanya, menikmatinya.
Lelaki itu Dimas, yang bahkan masih berstatus sebagai Suamiku sampai detik ini. Ia menggeram mencari kenikmatannya sendiri dan bergerak tanpa ragu. Seolah tindakan yang ia lakukan itu wajar dan tak bersalah.
Tanpa aku sadari, aku berteriak dengan histeris, karena saking terkejutnya melihat pemandangan di depanku dengan mata kepalaku sendiri. Aku akui, aku suka sekali dengan kejutan. Tapi, tidak untuk jenis seperti ini.
Mereka berdua pun tak kalah kaget, melihatku berteriak-teriak di lantai dekat pintu seperti orang kesetanan. Seolah dihentikan dengan paksa, lelaki itu langsung turun dari ranjang dengan muka memerah. Meraih sesuatu untuk menutupi tubuhnya yang seharusnya hanya aku yang boleh melihatnya, menyentuhnya, dan memilikinya.
Tanpa memikirkan lagi kekacauan apa yang akan terjadi selanjutnya, aku langsung bangkit, berlari ke arah ranjang.
Menarik rambut perempuan tak tahu diri itu dengan sekuat tenagaku, menamparnya, mencakarnya, dan memakinya yang biasanya tak pernah keluar dari mulutku sejak kecil. Tapi, kali ini aku melontarkannya dengan lancar seolah aku wanita yang tak pernah mengenyam bangku sekolah. Aku marah. Aku benar-benar di luar kendali.
Tubuhnya telanjang tanpa sehelai benang pun di bawah selimut pink pucatku, hanya menutupinya sampai pinggulnya yang memperlihatkan betapa sintal dirinya dan tampak lebih muda dariku beberapa tahun.
Dia hanya bisa menjerit. Menyuruhku untuk berhenti memukulnya, karena pakaiannya berceceran di lantai dan tak ada kesempatan memungutnya karena aku langsung menyerangnya.
Apa? Menghentikannya? Silakan bermimpi, Nona!
Dan Dimas, suamiku... Tidak! Laki-laki brengsek itu menarik tubuhku dengan keras berusaha menjauhkan aku dari atas tubuh perempuan yang baru saja ia setubuhi beberapa menit yang lalu. Badanku sedikit oleng dan dengan sukses kakiku menyentuh karpet coklat tua yang mendominasi kamarku.
Aku yang masih dikuasai oleh amarah dan cemburu dalam hitungan detik langsung menampar wajahnya yang biasanya aku sentuh dengan penuh kasih, tapi tidak kali ini. Aku mendorong dada kerasnya dengan kedua tanganku hingga punggungnya menabrak meja rias di belakangnya.
Semua barang jatuh berantakan yang hanya menyisakan sisir kecil milikku di atasnya dan cerminnya pecah sehingga menimbulkan suara gaduh. Aku meraih sembarangan barang yang bisa aku dapatkan lalu melemparkannya padanya, memukulnya membabi buta hingga aku tak sanggup lagi menggerakkan anggota tubuhku karena kehabisan tenaga.
"Kau...kau..." Aku mengatakannya dengan bibir gemetar, napas tak beraturan, dan dadaku sesak, "Apa yang kau lakukan padaku?" Aku berteriak dengan kencang.
Dia hanya diam tak menjawab pertanyaanku. Berusaha berdiri tapi langsung jatuh terjerembab lagi. Aku jadi berpikir, apakah karena perempuan ini kami jarang bersama akhir-akhir ini? Hatiku bergolak mencari jawaban.
"Karena tubuhmu sudah tak seenak dan senikmat dulu lagi."
Aku mendengar kata-kata itu dari balik punggungku. Refleks, memutar tubuhku dan melihat perempuan itu yang masih di atas ranjang. Rambutnya acak-acakan, wajahnya memerah bekas tamparan dan cakaranku di sana. Suaranya terdengar lebih mirip jalang murahan.
Aku berjalan kearahnya kemudian menjambak rambutnya hingga pandangannya melihatku tepat di kedua bola mataku. "Sejak kapan?" Suaraku dingin dan menuntut.
"Awww...sakittt!! Ampun Del...maafkan aku, sakittt!" Dia hanya berteriak kesakitan.
"Sejak kapan??" Dia terlonjak kaget karena aku berteriak tepat di telinganya karena tak mempedulikan pertanyaanku.
"Sasatu...ssaatu tahun, Del. Eh...satu...tahun lebih...iya satu tahun lebih." Jawabnya gelagapan.
Aku shock mendengar jawabannya yang tak tahu malu itu. Mereka berselingkuh di belakangku, suamiku berkhianat selama itu dan aku tak tahu bahkan menaruh sedikit curiga pun tak ada.
Betapa hebatnya mereka!
Plaaakkkkk.
Aku menamparnya dengan keras tepat di mulut, perlahan dari sudut bibirnya mengalir darah segar.
Otakku menyuruhku untuk menenangkan diri, menghirup napas dan menghembuskannya sekali dan mengulanginya lagi.
Perlahan kulepaskan genggaman tanganku pada rambutnya dan menatap wajahnya dengan pandangan jijik. Rasanya ingin sekali aku meludahinya tapi aku urungkan.
Aku berjalan melewati barang-barang yang berserakan di atas karpet yang lebih layak di sebut kapal pecah. Aku tangkupkan kedua tanganku ke wajahku.
"Ya, Tuhan. Apa salahku?" Gumamku.
Aku raih tas tanganku dan membuka lebih lebar daun pintu kamar, lalu keluar dari sana.
Saat akan menuruni tangga, aku rasakan dua tangan kekar memelukku dengan erat dari belakang. Aku masih mengenali sentuhan itu, deru napasnya di leherku, aroma keringatnya karena kegiatan yang baru saja menguras tenaganya. Mendadak aku mau muntah.
Meskipun aku akui, saat ini aku masih menginginkannya untuk membelaiku, menyentuhku seperti biasanya. Tapi aku juga merasa risih, dan juga jijik secara bersamaan. Karena tangannya yang biasa mengklaim sekujur tubuhku miliknya itu sudah berpindah tempat dari yang seharusnya.
Dia berbisik pelan, "Del..."
"Jangan. Sentuh. Aku." Potongku langsung. Aku mendengar suaraku yang begitu dingin, pelan tanpa emosi seperti tadi. "Lepaskan! Aku sudah tak menyukai sentuhanmu lagi." Tambahku.
Aku menuruni tangga dengan langkah gontai, kehabisan tenaga yang baru saja aku salurkan untuk meluapkan diriku yang dikuasai oleh amarah, aku yang terlalu emosi, dan aku yang di luar kendali.
Sesampai di tangga paling bawah, aku lihat lagi sepatu cewek bak jalang kelaparan karena nafsu itu. Tanpa perhitungan, langsung menendangnya jauh ke sembarang arah.
Kupandangi lagi rumah yang sekarang lebih mirip neraka bagiku ini. Di ujung ruangan dekat jendela ada sofa double seat yang mengingatkanku saat kami bersantai, bercanda, dan juga kadang berakhir saling mencumbu.
Ruang makan dan dapur yang sering kami lakukan untuk sarapan dan makan malam. Bahkan, kadang mencuci piring bersama. Dan tempat-tempat lain yang mengingatkanku akan kebersamaan kami.
Kupejamkan mata, merasakan hangat peluh air mataku yang mengalir lembut di pipiku. Hatiku sakit, dadaku semakin sesak. Aku membuka pintu utama dan tak sabar ingin segera pergi dari sini.
Pintu tertutup di belakangku dan kurasakan benda melingkar di pergelangan tangan kiriku.
Gelang Blue Sapphire itu mengingatkanku pada Fanny, sahabatku sekaligus pengkhianat dalam hidupku. Ia yang juga tega dan tanpa perasaan, rela berbagi ranjang dengan Suamiku, yang sekarang aku sudah tak mau menyebutnya lagi.
Kupandangi sekali lagi setiap detail gelang pemberiannya yang begitu indah, dan cantik untukku di hari ulang tahun kedua puluh empat. Akhirnya aku putuskan untuk membuka pengaitnya dan memasukkannya ke dalam tas Louis Vuitton milikku. Aku akan mengembalikannya nanti, atau akan lebih baik jika aku membuangnya??
***
Kriiiinnggg...kriiiinnggg...
Suara jam alarm terdengar begitu memaksaku untuk bangun. Aku mengabaikannya, karena selain masih terlalu lelah, tapi juga masih diselimuti rasa kantuk yang sangat. Aku pun tertidur lagi.
Krrriikkkk...kkrriikkk...
Suara khas jangkrik mengerik dari jam alarmku satunya lagi tak mau kalah bersemangat untuk menganggu tidurku. Kuulurkan tangan kanan dengan mata yang masih terpejam ke atas nakas untuk mematikannya.
Tanpa kuduga, ternyata salah meraih mug yang masih terisi air putihku semalam. Dan tentu saja...
Byuuurrr...
Mataku langsung terbuka lebar, aku terlonjak kaget dengan rasa dingin dari piyamaku yang menempel basah di kulitku, yang tentunya dibalik itu tak mengenakan apa-apa. Dan rasa kantukku langsung lenyap seketika.
"Waduuhhh...apes banget diriku," keluhku.
Tenggorokanku terasa kering dan dahaga itu begitu menyiksa, segera aku turun ranjang dan mendekati dispenser yang tak jauh dari kamar.
Kuisi penuh mug Hello Kitty-ku dengan air dingin. Meneguknya tanpa sisa dan mengisinya lagi, aku benar-benar kehausan. Setelahnya kutaruh mug di atas meja, cincin emas putih yang berhiaskan berlian nan berkilauan di jari manis tangan kananku, sungguh menyilaukanku. Aku mendesah dan melepasnya.
Aku jadi teringat hari di mana Dimas melamarku untuk menjadi pendamping hidupnya. Aku langsung menyetujuinya, karena kami kenal sudah cukup lama sejak masih sama-sama awal duduk kelas tiga SMP. Dan kami dipertemukan kembali yang sama-sama menempuh pendidikan SMA di yayasan yang sama. Beberapa bulan kemudian kami pacaran hingga kuliah dan akhirnya kami memutuskan untuk menikah.
Sampai detik ini, perasaanku akan dirinya masih sama seperti dulu, aku masih mencintainya. Meskipun ia mengkhianatiku tapi aku masih tidak bisa membencinya, hanya saja aku tak bisa memaafkannya.
Ya, meskipun harus ku akui, kadang-kadang masih merindukannya, mendengar suaranya, keberadaan dirinya di sampingku saat terbangun di pagi hari, pelukannya, ciuman basahnya di bibirku, dan di mana pun yang bisa ia sentuh.
Bagaimanapun juga, hubungan yang telah terjalin selama beberapa tahun tidak mudah untuk dilupakan begitu saja seperti membalikkan telapak tangan ataupun semudah mengangkat jemuran.
Aku buka laci di bawah meja dan memasukkannya di sana, aku sudah bertekad dan berjanji pada diriku sendiri untuk melupakannya, tak ingin mengingatnya meskipun itu sulit. Aku harus bisa!!
Yap! Aku harus mengisi hariku dengan kegiatan yang bisa mengalihkan pikiranku.
***
Kegiatan tiap hariku berjalan seperti biasa, aku tak bisa mengalihkan diriku dari pekerjaan yang menguras habis tenaga dan pikiranku. Aku bekerja di Perusahaan Percetakaan yang sudah berdiri dan berpengalaman puluhan tahun. Perusahaan ini maju pesat karena kami memiliki standar kualitas ekspor dengan harga yang sangat terjangkau. Menerima produk Cetakan seperti, peta dunia, katalog/buletin perusahaan, dan lain sebagainya. Klien kami selain dari dalam negeri seperti, Bali, Sorong, Jayapura, Ambon, Makassar, dan Gorontalo, kami juga memiliki klien dari mancanegara seperti, Taiwan, Jepang, Amerika Latin, Australia, dan New Zealand.
Sudah bisa dipastikan kegiatanku selalu berkutat dengan hal-hal yang berhubungan dengan percetakan. Dan tepat di jam istirahat dan makan siang seperti ini, laki-laki yang berpakaian kasual tapi bermerek mahal berjalan masuk dan berjalan mendekat ke arahku. Aku sudah tak bisa menebak jurus apa lagi yang akan dilancarkan demi mendapatkan apa yang ia kehendaki, hanya ingin mengajakku makan siang dan--aku menghela napas dengan berat. Di saat aku berjuang mati-matian untuk mengalihkan pikiranku, dia malah dengan kekonyolannya berani membawa wajah yang sangat aku kenal menemuiku.
Padahal, di kala aku melihat mobil orang lain dengan warna dan merek yang sama dengan miliknya, yang juga kadang melewati tempat yang pernah kami kunjungi bersama, kafe & resto yang kami jadikan tempat nongkrong di akhir pekan yang hanya sekadar untuk makan dan mengenang nostalgia, dan tempat-tempat lain yang selalu mengingatkanku akan sosok wajahnya. Hatiku kembali terasa sakit, dadaku mendadak sesak. Aku hanya mampu memejamkan mata dan berusaha menganggap aku tak melihatnya.
"Crazy Man." Bisikku lirih.
Tapi lagi-lagi aku berusaha tak akan sudi mendengarkan omong kosongnya seperti yang sudah-sudah dan dia pun tak akan pernah menyerah. Aku jadi berpikir, apakah aku harus menerima tawarannya? Sekaligus menendangnya jauh-jauh dari kehidupanku?
Aku benar-benar lelah. Akhirnya, setelah mendengar rayuan gombalnya di dalam telingaku yang terasa seakan cepat menjadi kotoran bagiku, ok! Aku ikuti permainannya.
***
Dan disinilah kami sekarang di Pisa Cafe dan duduk saling berhadapan, suara musik melankolis mengiringi kami semua sebagai pengunjung tempat ini. Dia juga yang memilih tempat ini, yang katanya untuk mengenang kebersamaan kami dulu.
Pelayan datang dan menanyakan menu makanan dan minuman apa yang ingin kami pesan. Dan dengan lancar ia menjawab tanpa melihat daftar menu, tidak juga bertanya padaku terlebih dahulu.
"Kami pesan beef teriyaki satu porsi, grilled chicken dengan saos BBQ satu porsi, grean tea, dan lychee tea untuk minumannya." Katanya yang masih tetap menatapku.
Pelayan cantik yang memiliki lesung pipi di kedua sisi wajahnya mencatat di buku kecil dengan cekatan.
"Ada lagi yang dipesan?" Tanyanya pada kami dengan senyum ceria.
"Untuk menu penutup, tolong mocca, kiwi & cicollato. Thanks." Jawab lelaki di hadapanku. Dia masih berusaha mengingatkan aku akan menu favoritku di Cafe ini.
Pelayan itu telah selesai mencatat dan memberikan senyum manisnya pada kami.
"Ok, tunggu sebentar, pesanan Anda akan segera kami antar. Makasih." Dan ia pun mundur dari penglihatan kami.
Seperginya pelayan aku masih tak membuka suara diantara kami. Aku menunggu dia yang memulainya dan aku akan segera menyelesaikannya dan bisa cepat angkat kaki dari sini.
"Kamu terlihat semakin cantik tapi kurus." Itu awal kalimat yang ia katakan padaku, yang jelas pernyataan bukan pertanyaan. Aku hanya menanggapinya dengan senyum tipis.
Kami kembali tanpa suara.
Hening begitu terasa.
"Del..."
"Gimana kabar Fanny?" Tanyaku bersamaan. Dia melebarkan matanya dan menyunggingkan sedikit senyum.
"Dia...dia tinggal bersama anaknya." Jawabnya singkat. Aku menyipitkan mataku karena merasa ada kejanggalan dalam perkataannya.
"Kalian tinggal bersama." Kataku memancingnya.
"Dia menggeleng, "Kami sedang mengurus surat perceraian, aku bukan Ayah biologis anak tersebut."
Deg...
Aku masih diam menunggu kelanjutannya.
Tiga tahun yang lalu, ia menceraikanku karena aku di anggap mandul olehnya. Tidak! Aku tidak mandul sebenarnya, karena aku pernah hamil dua bulan tapi keguguran. Dokter bilang, kandunganku lemah dan sulit untuk bisa memiliki keturunan seperti yang aku harapkan.
Dan sekarang, ia akan menceraikan Fanny, sahabatku yang juga penghancur rumah tanggaku itu karena melahirkan anak lelaki lain.
Seolah-olah aku tahu jalan pikirannya kenapa selama dua bulan terakhir ini ia selalu mengangguku, hadir di tiap momen yang sangat tidak aku harapkan.
Dia-ingin-kembali-padaku. Maaf, andaikata aku terlalu percaya diri.
Tiba-tiba aku merasakan tangan dinginnya menggenggam jari-jariku. Reflek kutarik tanganku dan menaruhnya di atas pangkuanku. Aku tak ingin terbawa suasana dan melemahkan pendirianku.
"Sorry, Del....aku tahu..." Kalimatnya terpotong dengan hadirnya pelayan yang membawa pesanan kami.
Setelah selesai menaruh semua menu di atas meja dengan cara yang sangat elegan, pelayan itu tersenyum dan berkata, "Selamat menikmati." Kemudian ia mengangguk dan mengundurkan diri.
Aku perhatikan semua menu di hadapanku tanpa selera, bahkan aku tak berkeinginan untuk mencicipinya ataupun menyentuhnya. Hanya satu yang aku inginkan saat ini, segera menjauh dari hadapannya.
Kemudian dia meminum lychee tea-nya hingga setengah, dengan tangan gemetar ia menyisir rambutnya ke belakang yang menampakkan betapa gugupnya dirinya saat ini. Lalu, ia menatapku dan makananku secara bergantian yang mengisyaratkan bahwa ia menyuruhku untuk segera memakannya.
Aku menggeleng, "Aku tak lapar. "Sahutku kemudian.
Dia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Menghela napas sekali dan melanjutkan omongan yang terpotong sebelumnya.
"Del...sorry. Aku tahu aku salah, aku brengsek, aku bajingan yang nggak tahu diri, aku..." Dia berhenti. Lalu, "Dan waktu itu aku begitu egois yang mementingkan kepentinganku sendiri tanpa...tanpa  memikirkan perasaanmu." Katanya, yang juga tampak sekali sedang memikirkan untuk menyusun kalimat lain.
"Semua sudah berlalu, Mas. Tak ada gunanya diungkit kembali." Jawabku. Aku meremas jari-jariku di bawah meja.
Dia mencondongkan badannya ke depan dan menatap tepat pada iris mataku. "Aku ingin kita seperti dulu lagi." Katanya.
Aku langsung berhenti bernapas, demi mendengar perkataannya barusan dan mencernanya. Tebakanku benar, batinku.
Aku masih diam membisu dan mengalihkan ucapannya dengan menyesap grean tea di hadapanku. Ok, katakan! Apa rencanamu Del! Otakku memberiku dukungan.
"Maaf..." Ucapku lirih.
Dia menghela napas dengan keras. "Maafkan aku, Del. Tolong, beri kesempatan sekali lagi padaku." Dia memohon dengan suara mengiba.
Aku berusaha menulikan pendengaranku dan masih bersikukuh dengan pendirianku.
"Delia..." Panggilnya.
Aku tarik napas dan memberanikan diri untuk menatap matanya. Aku tersenyum, "Di antara kita sudah berakhir, Mas. Dan aku berpikir lebih baik kita seperti ini, menjalani hidup masing-masing. Aku sudah terbiasa dengan kehidupanku yang sekarang, aku bahagia." Kataku.
Aku meraih tas Channel milikku di sandaran kursi. Aku mengeluarkan sebuah kotak merah hati yang di dalamnya cincin pemberiannya dulu dan juga gelang pemberian Fanny. Aku menaruhnya di atas meja, memberikannya.
"Terimakasih pernah singgah di hidupku dan mengenalkan arti kasih sayang padaku selama ini, akan kujadikan kenangan yang terindah di antara kita. Makasih makan siangnya tapi, aku harus balik kerja." Lalu aku mendorong kursi ke belakang dan berdiri.
"Tunggu, makanlah dulu." Katanya. "Makananmu belum kau sentuh sama sekali." Lanjutnya dengan raut muka yang semakin kusut.
"Nggak papa, aku nggak lapar." Jawabku singkat dan berbalik.
Baru kakiku melangkah beberapa meter dari tempat meja yang aku duduki, tiba-tiba ada sebuah tangan memutar bahuku dan memelukku.
"Beri kesempatan padaku sekali lagi, Del. Pliss!" Bisiknya lirih tepat di telingaku. "Aku masih mencintaimu." Bisiknya lagi.
Aku hampir goyah, karena aku juga masih mencintainya, masih menginginkannya, masih merindukannya. Tapi, teringat akan pengkhianatan dan perselingkuhan di ranjang kamar tidurku waktu itu, aku sulit untuk melupakannya.
Aku tak 'kan pernah bisa. Aku tak sanggup. Di tambah lagi dia masih berstatus suami orang.
"Mas...sorry, aku tak bisa..." Kataku pelan sambil berusaha merenggangkan tubuh kami.
Dia menatapku penuh harap, tangannya terulur untuk merapikan poniku yang miring ke samping kanan dan menyentuh wajahku, mengamati setiap inchinya. Aku bisa melihat sekilas, ia berusaha mendekatkan bibirnya padaku.
Aku tutup rapat bibirku dan memiringkan wajah kesamping kiri, menghindarinya. Dia tampak terluka dan kecewa.
"Waktu jam istirahatku sudah habis." Kataku tanpa melihatnya. "Bye bye." Tambahku sekali lagi dan berjalan menjauh meninggalkan suara sepatu di belakangku.
Saat menunggu taksi di seberang jalan, tiba-tiba mobil hitam mengkilap yang aku kenal berhenti di depanku dengan kaca jendela yang terbuka. Ia tersenyum dan dengan dagunya mengisyaratkan menyuruhku untuk segera masuk memberi tumpangan.
Dia atasanku, Putra pemilik perusahaan tempat aku bekerja. Dia salah satu orang yang sangat mengenal kehidupanku luar dalam. Aku juga tahu maksud kedekatannya padaku selama ini, mungkin aku harus membuka hatiku untuk orang lain. Dengan begini, aku yakin akan sangat membantu melupakan masa laluku.
Tanpa pikir panjang aku menarik sudut bibirku ke samping lalu melangkah masuk ke pintu yang sudah ia buka dan mobil pun meluncur meninggalkan trotoar Pisa Cafe di belakangnya.
"Selamat tinggal kenangan," batinku.
~The End~





Minggu, 25 Mei 2014

Selamat Jalan Riska Nova


 Innalillahi wa Innailaihi rojiun. Rip #Riska Nova

Jodoh, umur, rezeki itu hanyalah Tuhan yang tahu. Rahasia Tuhan.

Tahun lalu aku pernah memimpikan Riska Nova -sobat dumayku- kita sama-sama menikmati lezatnya kue ulang tahunnya.

Dan aku pun menceritakannya padanya. Dia bilang, "Moga saja suatu hari nanti kita bisa ketemu ya cyiinnnn." Dan ternyata sebelum impian itu terjadi, Tuhan berkehendak lain.

Terus terang aku kaget dapat berita siang ini 25 Mei 2014 M. Aku shock, aku masih nggak percaya. Tapi setelah aq cek semua para komentar di fb nggak ada yang dari Alm. Riska, krn dia itu pasti ikutan komen terutama berita duka, ultah, novel baru, info giveaway, dll. Jadi, aku mulai percaya bahwa Riska Nova yang sudah aku kenal selama dua tahun ini sudah nggak ada.

Dan memang benar, tahun lalu adalah ucapanku yang pertama dan terakhir padanya. Sekarang dia sudah nggak ada, mungkin Tuhan lebih sayang padanya dan menempatkannya di surga terlebih dahulu. Semoga kita bertemu di sana dalam takdir-Nya. Amin.

Kalo inget gimana kisahku kenal ama Riska itu....

Dulu...awal kenal Alm. Riska itu komen di blog mbak Shin. Waktu itu aku komen apa ya, klo g salah tentang umurku yg ternyata udah tuir terus mbak Shin bales komenku.

"Iya nih udah mau kepala tiga hihi. Emang umurmu berapa sih?" Balas komen Mbak Shin padaku.

"** Mbak Shin hihi."

Nggak taunya Riska ikutan nimbrung.

"Oh ternyata kita seumuran Shila, mulai hari ini g usah manggil mbak lagi, manggil nama aja. Tuh sist Shin di atas kita setahun wkwk (kurang lebih seperti ini komennya, secara pas/detail aku lupa)

Tapi waktu itu ttp aq manggil mbak dan dia ngambek eh malah diketawain ama mbak Shin hihi

Abis itu sepakat aq manggil dia Chhiiiinnn dan dia manggil aku cyiinnnn. Untuk mengganti panggilan Mbak hehe. Karena my granma pernah bilang, sama orang yang nggak kita kenal nggak boleh manggil nama. Nggak sopan. Kudu manggil Mas, Mbak, Dek, Pak, Bu, dll. (Masih inget ampek skrg)

Selanjutnya kita ngobrol di status/komen G+, blog PN, blog mbak Shin, fb dan hang out g+ itu! saling kirim imel, kasih epup novel! dan dia pernah bantuin aku minta epup ama mas Yudi. Krn waktu itu aq sungkan mo minta sendiri. Lah waktu itu status private antara Riska dan Mas Yudi, eh malah g taunya aku dicolek ama mas Yudi, katanya, "Kenapa Ashia Shila nggak minta sendiri, malah pake jukir? Wkwkkk." (Klo g salah seperti itu komennya, udah lama sih sedikit lupa)

Belum lama ini juga, sempet komen2an di status fb mbak Shin (tak kupas sekadar mengenang nostalgia)

Shin Haido
1 Mei
karena game reviewnya yg ikut cuma Ashia Shila jadi beliau menang aklamasi  -pulsanya kalau dirimu udah **** ya cin........
Batal Suka ·  · Bagikan
Anda, Trifonia Merlin, Riska Nova, dan 2 orang lainnya menyukai ini.

Maggie Loe Eteng Ya elah.... Uda ditutup ya....
1 Mei pukul 22:19 · Suka

Shin Haido emangnye mau ngirim?
1 Mei pukul 22:20 · Suka

Maggie Loe Eteng Niat seh... Blm buat...
1 Mei pukul 22:21 · Suka

Ashia Shila Wkwkwkk baru kali Ini aku menang tanpa lawan hehe. Makasih ya mbak Shin *peyyuukkkk
1 Mei pukul 22:22 · Suka

Ashia Shila Eih btw jgn panggil aq beliau donk mbak Shin, aku kan Msh unyu-munyu wkwkwk
1 Mei pukul 22:23 · Suka

Riska Nova ya amplooopppp! ane lupaaaaaaaaa.. astagaahh! congratz ya cyiinn Ashia Shila
1 Mei pukul 22:24 · Batal Suka · 1

Shin Haido  niat gak sehhh???? grrr.....

Ashia Shila baru kali ini jg aku bikin games peminatnya 1 orang aja  -kyknya musti gulung tikar dari FB jg nih

Riska Nova
1 Mei pukul 22:25 · Suka

Riska Nova walhasil lupitaa deh

bikin lagi donk darl', xixiixixixixixi
1 Mei pukul 22:27 · Suka

Riska Nova iyaa nih.. gegara kcapean kmren jadiny kbablasan bobonyaaa
1 Mei pukul 22:27 · Suka

Ashia Shila Itu aku bikinnya semalem Chhiiinn Riska g tau asal ngetik di otak hehe
1 Mei pukul 22:28 · Suka · 1

Maggie Loe Eteng Jgn grr dong.... Hr ini kan libur, br bs ddk santai di laptop....

Gk papa kok gk dpt hadiahnya... Yg ptg niatnya...
1 Mei pukul 22:28 · Suka

Shin Haido  ntar aku bikin lg dah, sisa 75rb buat hadiah 1 atau 2 bukuku (ntu yg antalogi cerpen niatnya mau aku jadiin hadiah dlm rangka ultah kedua myowndramastory  cuman belum tahu mau bikin game apah...
1 Mei pukul 22:29 · Suka

Shin Haido Ashia Shila ebat ye bisa ngetik diotak wkwkwkkwkwkw
1 Mei pukul 22:29 · Suka

Ashia Shila Mbak Shin jgn gt donk! Gulung tikar pindah ke kasur ukuran raja ya.,? Kata mbak Mulya king size = ukuran raja
1 Mei pukul 22:29 · Suka

Shin Haido eh itu aku dikick out ya dr grup itu? atau emang pembersihan grup?
1 Mei pukul 22:30 · Suka

Ashia Shila Mbak Shin aq apus itu grup wkwkwk
1 Mei pukul 22:30 · Suka

Riska Nova aciikkk acikkk aciikkkk...... poke-mon-in yaa klo dah tau mo bikin game apaann...

ane mo ikutan lagiii... #mgGAlupa
1 Mei pukul 22:30 · Suka

Maggie Loe Eteng Grup opo toh?
1 Mei pukul 22:30 · Suka

Ashia Shila Tp sebelumnya aq kick semua anggotanya *maafken daku. Abisnya ownernya g bisa diajak ngomong wkwkwk
1 Mei pukul 22:31 · Suka

Riska Nova cyiinn Ashia Shila wkwkkwkwkkwkwk... ..Terlalu sadis caramu,, #Afgan
1 Mei pukul 22:32 · Suka

Shin Haido hahhaha @eskah : ada saran musti bikin game apa?

@maggie grup plagiat tuh tp gak mau ngaku

@ashia : hahahaha terlaluhhhhh
1 Mei pukul 22:32 · Suka

Riska Nova postingin Alpha males?? #gubraaaaaaaaakkk
1 Mei pukul 22:32 · Suka

Shin Haido err...
1 Mei pukul 22:34 · Suka

Riska Nova wkwkkwkwkkwkw...
1 Mei pukul 22:35 · Suka

Ashia Shila Eh bentar, kirain krn tp yg menang daku seorang, trus hadiah semua pulsa 25rb x4 itu jd milikku seorang wkwkwk nggak tow ternyata haha.

Mbak Shin Haido & Chhiinn Riska : emng gt caranya hapus grup, kita kudu apus semua anggota dulu, terakhir hapus diri sendiri, so keapus secara otomatis tuh grup hehe

#sabar by Afgan hahaha. *gak MAU kalah haha
1 Mei pukul 22:35 · Suka

Riska Nova mna ada lagunya Afgan yg sabar??? wkwkkwkwkwkkwkkkk
1 Mei pukul 22:36 · Suka

Shin Haido Ashia Shila :maumu...
1 Mei pukul 22:37 · Suka

Ashia Shila Ada kok Chhiinn Riska Nova : kayak gini nyanyinya...

Sabar..sabarlah cintaku...dll hehhe cekidot http://youtu.be/646Zn3jfqVM

Mbak Shin: aku kan cinta duit mbak Shin huahahaa

1 Mei pukul 22:41 · Suka · Hapus Pratinjau

Riska Nova whuahahhahahaaa...
1 Mei pukul 22:42 · Suka

Shin Haido lagu apaan tuh?
1 Mei pukul 22:44 · Suka

Shin Haido ahhaha aku jg cinta duit cin... apalagi kl duit dikasi minta
1 Mei pukul 22:44 · Suka · 1

NasiKepal Opio Grup apa seh? Kepo sy mb
1 Mei pukul 22:45 · Suka

Shin Haido grup yg plagiatin translate-an novel dr PN, dia akuin sebagai hasil terjemahannya dia, wkt dikonforntasi malah mengelak n berlaku seolah2 dia innocent...
1 Mei pukul 22:46 · Suka

Ashia Shila Ada kan chhiinn hihi
Keren juga kisah dalam lagunya

1 Mei pukul 22:48 · Suka

Ashia Shila Lagunya Afgan judulnya Sabar mbak Shin
1 Mei pukul 22:48 · Suka

Ashia Shila Loh kok jd iklan handbody yg aq pake? Wkwkwkk #mabok hehe kok eror sih, pantesan ???!!! Ngakak guling2 hehe
1 Mei pukul 22:52 · Suka

Riska Nova lagunya mana cyiinn Ashia Shila?? itu cuma pot.iklan Johnson gituu..
1 Mei pukul 22:52 · Suka

Riska Nova whuahahahhahahahhahaha
1 Mei pukul 22:53 · Suka

Ashia Shila Kok beda ya sama di aku? Hehehe *tepukjidatttt

1 Mei pukul 22:54 · Suka · 1

Riska Nova wkwkwkkwkwkkw....
1 Mei pukul 22:55 · Suka

Shin Haido nyuahahaha....
1 Mei pukul 22:56 · Suka

Ashia Shila Hahahaa mayuuuuu coba cek dexh di fbku aq upload kok, beneran ada lagunya Afgan yg judulnya sabar, sumpah hehe. Dia cakep bgt di situ *mata langsung melek liat cogan wkwkwk
1 Mei pukul 23:01 · Suka

Shin Haido hahha.. kurusan ya dia disana :d
1 Mei pukul 23:04 · Suka

Ashia Shila Lah dulu pas ke Plaza Semanggi nggak pernah ketemu Afgan ki diriku so ya nggak tau dia gemuk tau kurus wkwk klo mantan misuanya Rachel Maryam emang kuruuusss bgt hihi
1 Mei pukul 23:08 · Suka

Shin Haido he... kan di vidklipnya doeloe keliatan
1 Mei pukul 23:09 · Suka

Ahhhh semuanya tinggal kenangan...aq masih begitu mengingatnya. I will miss you chhiinnnn :-* moga dikau tenang di sana dan keluarganya diberikan kekuatan, keikhlasan, serta adiknya moga cepet sembuh. Amin.


Eriska Nova Olii 30 November 1985 - 25 Mei 2014

Rabu, 16 April 2014

Elegi Mentari Senja

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered! 

Tapi pada akhirnya aku berencana untuk melanjutkannya kisah mereka di sini



Sinopsis

Melissa adalah seorang perempuan yang membawa  masa  lalu  kelam  dalam  hidupnya. Pernah  diperkosa oleh  Pamannya sendiri menjadikan  dirinya ketakutan terhadap sentuhan  pria. Hanya  Ferry, Kakak  kandungnya sekaligus  satu-satunya lelaki dalam hidup  yang paling bisa berdekatan dengannya. Hingga  kemudian  dia  bertemu  Tommy. Sahabat  baik Ferry.
Perlahan hati Melissa mulai luluh atas segala ketulusan Tommy, namun akankah cinta memenangkan segalanya ketika sesuatu dari diri Melissa yang gelap kembali bangkit dan menghantui masa depannya? Pada akhirnya dia harus memilih. Cahaya  untuk masa depannya atau terjebak dalam masa lalu??

Prolog

Kurasakan tangan besar dan kasar menyingkap baju tidurku, jari-jari dinginnya menyentuh kulit perut buncitku. Semakin lama semakin naik kemudian meremas dadaku yang belum tumbuh seutuhnya. Sontak membangunkan tidurku.
"Paman?" mataku melebar dengan besar. "Apa yang Paman lakukan?" teriakku.
Kudorong tangannya agar menjauh dariku. Tapi apalah daya, kekuatan tubuh kecilku tak bisa dibandingkan dengan lelaki dewasa.
"Kumohon jangan!!" Aku memohonnya untuk menghentikan tangannya yang dengan kasar merobek baby doll motif snoopy yang kukenakan. Bukannya berhenti, dia semakin beringas dan brutal.
Dia menindihku, kedua pergelangan tanganku dicekalnya dengan tangan kanannya. Sementara tangannya yang bebas berusaha menurunkan celana dalamku. Aku meronta, kakiku bergerak menendang-nendang berusaha keluar dari kungkungannya.
"Sstttt!! Jangan keras-keras!" Bisiknya di telingaku, yang dilanjutkan dengan menjilat lubang telingaku, leherku lalu turun semakin ke bawah.
Aku bergidik ngeri, jijik. Kugeleng-gelengkan kepala ke kanan dan kiri, aku tak suka rasa basah di kulit tubuhku yang berasal dari sapuan lidahnya.
Aku berteriak kencang, "Aku nggak mau!!"
Aku hampir kehabisan oksigen, dadaku sesak karena keberadaan tubuhnya yang besar di atasku tak mau pindah bahkan barang sedetik pun.
"Diam!!" Matanya melotot padaku. Tangannya membekap mulutku. "Jangan berteriak! Tak'kan ada yang mendengarmu. Lebih baik turuti Pamanmu ini, sayang." Dia tersenyum culas pura-pura tak melihat kepanikanku.
Dia bangkit, sejurus kemudian membuka kakiku lebar-lebar. Tenggorokannya bergerak naik turun menelan ludah menatap pada kemaluanku. Diturunkannya kepalanya ke arah kewanitaanku yang masih polos belum ditumbuhi rambut pubis sehelai pun. Tangannya bergerak membuka lipatannya. 
Aku semakin panik, dengan paksa kutarik rambutnya sekuat tenagaku. Kucakar pipinya dengan kukuku yang panjangnya tak seberapa. 
Dia mengerang. Kuharap dia segera bangkit dari tubuhku, tapi ternyata kurasakan lidahnya membelai di area tersebut semakin dalam. Kemudian dia menarik kedua kakiku ke atas. Aku semakin tak berkutik dibuatnya.
Aku mengencangkan teriakanku, menangis histeris. Berharap ada orang lain yang mendengarnya. Air mata bercucuran membasahi pipiku. Aku hanya bisa berteriak minta tolong agar ada orang lain -siapapun dia- rela datang dan sudi menolongku.
Brakkkk!!
Suara pintu terbanting melawan dinding dengan keras. 
"Kurang ajar kau, brengsek!!" Suara laki-laki yang sangat kuhafal berdiri di pintu kamarku, Bang Ferry. Dia berjalan secara kilat menuju tempat tidurku.
Paman gila yang berusaha melecehkan keponakannya sendiri bangkit dari tubuhku. Dia menoleh ke arah sumber suara. 
Aku juga menatapnya, lalu berteriak memanggilnya. "Bang!! Dia jahat. Dia nyakitin Lissa." Aku mengatakannya sambil menangis dengan suara tersenggal-senggal. 
Tak ada satu detik, tangan kanannya yang mengepal mendarat dengan mulus ke wajah Paman tanpa ampun. Dia memakinya dan memukulinya membabi buta. Darah menyembur dari mulutnya.
Paman tak mau tinggal diam, dia pun memukul dada dan perut Bang Ferry. Mereka saling melukai satu sama lain.
Aku beringsut menjauh dari pergulatan para pria dewasa tersebut, tak mempedulikan lagi apa yang terjadi di belakangku, aku langsung turun dari ranjang. Selimut gambar Snow White kesayanganku jatuh ke lantai, aku pun mengabaikannya.
Langsung bergegas lari ke tempat lebih aman.
Tempat persembunyianku.
Bersembunyi.
***